Sidoarjo (republikjatim.com) - Politisi muda sekaligus anggota Fraksi PKB DPRD Sidoarjo, Rafi Wibisono resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sidoarjo periode 2026 - 2029. Keputusan itu, ditetapkan dalam Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) yang digelar di Gelora Delta Sidoarjo, Rabu (26/08/2026) sore.
Putra Bupati Sidoarjo Subandi ini melenggang sebagai calon tunggal setelah mengantongi dukungan mayoritas dari Cabang Olahraga (Cabor). Sejak awal sidang, Rafi telah mengamankan 30 suara Cabor. Jumlah itu, bertambah setelah enam Cabor mengalihkan dukungan dari rivalnya, Siswaji Abidin.
Baca juga: Usai Mutasi Bupati Subandi Tunjuk M Ainur Rahman Jadi Plt Sekda Sidoarjo Gantikan Fenny Apridawati
Siswaji gugur dari bursa pencalonan lantaran berkas dukungannya tak memenuhi batas minimal 20 Cabor. Berkas dukungan Siswaji yang semula berjumlah 21 Cabor menyusut menjadi 15 Cabor saat pelaksanaan sidang. Akibatnya, pimpinan sidang secara resmi menggugurkan pencalonan Siswaji Abidin. Kondisi ini membuat Rafi ditetapkan sebagai ketua terpilih tanpa melalui proses pemungutan suara.
Dalam sambutan resminya usai penetapan, Rafi Wibisono mengapresiasi atas kepercayaan yang diberikan para pengurus Cabor. Ia menegaskan kesiapannya untuk membawa angin segar dan reformasi di tubuh KONI Sidoarjo.
"Terima kasih atas dukungan dari Bapak dan Ibu pengurus Cabor dalam Musorkablub ini. Saya siap memberikan perubahan yang lebih baik untuk KONI Sidoarjo periode 2026 - 2029," ujar Rafi Wibisono.
Rafi menjelaskan arah pembinaan olahraga di bawah kepemimpinannya tidak hanya berorientasi pada raihan medali saja. Akan tetapi, juga mengintegrasikan prestasi dan pendidikan.
"Termasuk merancang kesejahteraan masa depan bagi para atlet di Kota Delta secara berkelanjutan," ungkapnya.
Untuk mewujudkan beberapa cita-cita itu, Rafi menyiapkan sejumlah program strategis. Diantaranya mulai dari penyediaan beasiswa pendidikan, pemberian apresiasi dan pendampingan atlet hingga merangkul sektor swasta untuk membuka peluang kerja bagi atlet purnatugas.
"Sistem pembinaan olahraga modern tidak boleh lagi hanya berfokus pada perolehan medali. Para atlet jangan hanya memikirkan olahraga saja. Akan tetapi, harus dibekali pendidikan melalui beasiswa. Jangan sampai setelah tidak lagi bertanding, mereka justru menjadi pengangguran," tandasnya. Ary/Waw
Editor : Redaksi