Workshop Penguatan dan Pengembangan Guru Mata Pelajaran Difokuskan Asesmen Diagnostik dan Modul Ajar Toleransi


Workshop Penguatan dan Pengembangan Guru Mata Pelajaran Difokuskan Asesmen Diagnostik dan Modul Ajar Toleransi PELATIHAN - Sebanyak 20 peserta yang terdiri Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dari lima sekolah mengikuti workshop di Hotel Royal Trawas, Mojokerto, Selasa (24/05/2022) malam.

Mojokerto (republikjatim.com) - Sebanyak 20 (dua puluh) peserta mengikuti workshop di Hotel Royal Trawas mulai Selasa (24/0/2022) sampai Rabu (25/05/2022).

Para peserta itu, terdiri Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dari 5 (lima) sekolah. Diantaranya SMAN 1 Gedangan dan MAN Nurul Huda Sedati serta 3 guru SMPN 1 Waru, Taman dan SMPN Gedangan.

Dalam acara yang diselenggarakan Komunitas Seni Budaya BrangWetan ini bertema Penguatan dan Pengembangan RPP dan Jurnal Mata Pelajaran Berbasis Toleransi untuk Guru Mata Pelajaran. Kegiatan ini, bagian dari rangkaian program BrangWetan selama satu tahun. Yakni Cinta Budaya Cinta Tanah Air yang berlangsung hingga pertengahan Tahun 2023 mendatang.

Kepala Bidang Penjamin Mutu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Sidoarjo, Dr Netti Lastiningsih menjadi narasumber acara di hari pertama dengan dua materi. Yakni Asesmen Diagnostik dan RPP Modul Ajar Berbasis Toleransi.

"Para guru wajib mengetahui kemampuan dasar dan kondisi awal siswa sebelum memulai pembelajaran. Jangan sampai akhir pembelajaran, sudah mengajar satu semester, ternyata guru baru tahu siswa tidak suka dengan mata pelajaran yang diajarkan. Inilah yang dinamakan asesmen diagnostik yang harus dilakukan guru sebelum memulai pembelajaran," ujar Netti kepada republikjatim.com, Selasa (24/05/2022) malam.

Asesmen Diagnostik, kata Netti nanti akan diganti dengan istilah asesmen awal. Tujuannya, agar tidak ada pemahaman hanya orang ahli saja yang melakukannya. Menurutnya, asesmen diagnostik adalah asesmen yang dilakukan untuk mendiagnosis kemampuan dasar siswa dan mengetahui kondisi awal siswa.

Terdapat dua asesmen diagnostik. Yaitu nonkognitif dan asesmen diagnostik. Tujuan asesmen diagnostik non kognitif adalah mengetahui soal kesejahteraan psikologi dan sosial emosi siswa, aktivitas selama belajar di rumah, kondisi keluarga siswa, latar belakang pergaulan siswa, gaya belajar, karakter dan minat siswa, cara pandang siswa serta sikap menghargai perbedaan, toleran, budaya dan lain sebagainya.

"Sebetulnya semua hal itu menjadi tugas Guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang dilakukan melalui psikotest. Sayang sekali kalau hal itu tidak diketahui para guru," ungkapnya.

Saat ini, kata Netti biaya psikotest itu mahal. Baginya disayangkan jika guru tidak tahu hasilnya sehingga tidak bisa mengambil sikap ketika mengajar siswanya. "Itu bisa menjadi pengetahuan dasar bagi setiap guru sebelum menyampaikan materi ke siswa dan siswinya," paparnya.

Sedangkan asesmen diagnostik kognitif bertujuan untuk mengidentifikasi capaian kompetensi siswa, menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rata-rata siswa dan memberikan kelas remedial atau pelajaran tambahan kepada siswa yang kompetensinya di bawah rata-rata.

"Kalau semua pengetahuan itu diketahui semua guru, kami yakin sistem pembelajarannya akan berjalan efektif dan efisien," tandasnya.

Usai acara bersama narasumber Netti Lastiningsih hingga malam hari, acara keesokan harinya, Rabu (25/05/2022) akan diisi dengan narasumber dari tim LPPM UIN Sunan Ampel, Prof Dr Rubaidi, Dr Hernik Ferisia dan M.Amin Hasan. Hel/Waw