Tak Berizin dan Resahkan Warga, Bupati Sidoarjo Tutup Industri Tepung Limbah Bulu Ayam di Kletek Taman


Tak Berizin dan Resahkan Warga, Bupati Sidoarjo Tutup Industri Tepung Limbah Bulu Ayam di Kletek Taman TUTUP - Pertemuan yang dipimpin Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) dengan warga Desa Kletek, Kecamatan Taman, Sidoarjo membuahkan hasil penutupan pabrik tepung limbah bulu ayam karena tak berizin, Kamis (04/11/2021) malam.

Sidoarjo (republikjatim.com) - Pertemuan yang dipimpin Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) soal konflik antara warga dengan pemilik usaha home industri tepung yang diproduksi dari limbah ayam akhirnya menemui titik terang, Kamis (04/11/2021) malam. Usaha pengolahan limbah bulu ayam yang dijadikan tepung itu, ternyata melanggar sejumlah peraturan.

Berdasarkan hasil pertemuan itu, akhirnya Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor memutuskan menutup pabrik yang telah lama meresahkan warga sekitar karena bau busuk yang menyengat itu.

Proses mediasi yang berlangsung di Kantor Balai Desa Kletek ini, selain dihadiri Bupati Sidoarjo juga disaksikan Asisten 1 M Ainur Rahman, Kepala DLHK M Bahrul Amig, Kepala Dinas PUBM dan SDA Sigit Setyawan, Kasat Pol PP Wiwid Widyantoro, Kabag Hukum, Camat Taman, Forkopimka dan Tokoh Masyarakat setempat.

Gus Muhdlor mengingatkan kepada warga Sidoarjo agar secepatnya mengutarakan setiap masalah tentang kebijakan pemerintah. Hal itu agar segera mendapatkan solusinya.

"Cerita ini sudah lama dari Tahun 2017. Pengaduan dari masyarakat masuk ke Pemkab Sidoarjo. Oleh karena itu, Pemkab Sidoarjo hadir. Kalau kemarin Pak Wabup juga sudah hadir, sekarang Pak Bupati hadir ingin menuntaskan masalah ini secepat-cepatnya," ujar Bupati Sidoarjo, Gus Muhdlor mengawali forum mediasi, Kamis (04/11/2021) malam.

Atas dasar Peraturan Bupati Sidoarjo Nomor 103 Tahun 2017 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sidoarjo Nomor 4 Tahun 2012 tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB), hasil verfikasi diketahui beberapa izin persyaratan tidak kunjung dipenuhi pemilik usaha. Aktivitas usaha dinilai melanggar beberapa pasal, khususnya pasal 11.

"Kami memutuskan menghentikan usaha sampai izin diterbitkan mulai tanggal 5 November 2021. Kalau tidak ada izin, tidak boleh dan masyarakat wajib mengawasi. Ada kalanya cuma pindah tempat, tapi kalau kelihatan baunya meski sedikit selama kegiatannya tidak ada izinnya maka harus dilaporkan," papar Gus Muhdlor.

Sejumlah perizinan yang belum dikantongi itu diantaranya tidak ada Izin Mendirikan Bangunan (IMB), izin lingkungan baik AMDAL maupun UKL-UPL dan izin Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SKPU).

"Lengkap sudah. Rekomendasi mediasi malam ini harus segera ditutup perusahaan itu," tegas Bupati Alumni Fisip Unair ini.

Salah seorang Tokoh Masyarakat (Tomas) Desa Ketek, Asmuni mengungkapkan keberatan warga dengan keberadaan industri pengolahan bulu ayam itu sebenarnya sudah terjadi tahun 2017. Saat itu warga sudah melapor ke Pemkab Sidoarjo. Namun warga tidak melihat ada perubahan dari sistem pengolahannya. Akibatnya yang terkena dampaknya dari polusi bau adalah warga sekitar.

"Waktu Tahun 2017 itu, waktu ke lingkungan hidup itu tindak lanjutnya tidak ada. Kami tindak lanjuti sampai ke perindustrian sampai ke macam-macam. Terakhir Wakil Bupati yang kemarin. Waktu itu dijanjikan diberi peringatan 2 minggu selesai untuk menyelesaikan bau, tetapi buktinya sampai kemarin masih ada," ungkapnya.

Sementara pemilik usaha, Umindah Marji tidak bisa mengelak akhirnya menghentikan produksi dan menutup industri tepungnya itu. Selain karena telah menyalahi perizinan, selama ini keberadaan usaha ini dinilai mencemarkan polusi bau yang meresahkan warga sekitarnya.

"Kami mengakui tanah yang ditempati untuk usaha pengolahan limbah ayam itu tidak bersertifikat. Sertifikat saya tidak ada. Tapi saya selalu membayar PBB sejak 2005 itu," tandasnya. Hel/Waw/Adv