Makam Kuno di Wonokasian Wonoayu Diyakini Para Ulama Sebagai Makam Keturunan Sunan Giri


Makam Kuno di Wonokasian Wonoayu Diyakini Para Ulama Sebagai Makam Keturunan Sunan Giri PASTIKAN - Pengasuh Pesantren Modern Bumi Shalawat, Desa Lebo, Sidoarjo, KH Agoes Ali Masyhuri ikut menyaksikan makam yang diyakini cucu Sunan Giri di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Wonokasihan, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, Selasa (23/11/2021) petang.

Sidoarjo (republikjatim.com) - Warga Desa Wonokasian, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo merasa bangga. Ini menyusul, ditemukannya sebuah makam kuno yang ada di dalam Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat.

Tidak tanggung-tanggung, makam bernisan batu karang itu diyakini adalah makam seorang auliyah yang menyebarkan ajaran keislaman di wilayah Sidoarjo. Makan yang juga dilengkapi sejumlah batu bata kuno ukuran 35 x 25 sentimeter yang sebagian dialihfungiskan menjadi nisan itu diyakini sebagai makam Mbah Raden Muhammad Hamzah atau yang kerap disebut Pangeran Wanasrama Karesian. Kala itu, dia sebagai tokoh yang berjasa dalam proses dakwah islamisasi di wilayah Sidoarjo.

Keyakinan itu, setelah melalui sejumlah proses penelitian melibatkan ahli arkeologi, spiritual hingga kajian selama beberapa bulan. Akhirnya, satu makam tua berukuran jauh lebih panjang dari makam pada umumnya itu diyakini sebagai makam Mbah Raden Muhammad Hamzah atau Pangeran Wanasrama Karesian yang tak lain cucu Sunan Ampel sekaligus cucu Sunan Giri.

"Kami sudah meyakini makam auliyah ini sebagai cucu Sunan Ampel sekaligus Cucu Sunan Giri. Itu sesuai keyakinan Gus Saiful Arif keturunan Giri Kedaton di Surabaya," ujar Gus Asrul, Pakal, Surabaya yang juga saudara Gus Saiful Arif, Selasa (23/11/2021) petang.

Lebih jauh, Gus Asrul yang masih keturunan Syekh Abdurachman (Cangga Baka') ini menjelaskan untuk manakib sejarah keberadaan makam auliyah di Desa Wonokasian ini akan dijelaskan secara rinci oleh Gus Saiful Arif. Hal ini lantaran Gus Saiful Arif, sangat mengetahui naskah sejarah tentang Giri Kedaton hingga di masa Sunan Ampel.

"Ada dua jejak yang ditemukan teman-teman Ranting Nahdlatul ulama (NU) dan Ansor Desa Wonokasian. Yakni makam itu dan adanya dugaan kuat adanya bekas sebuah bangunan kuno itu," imbuh Gus Asrul.

Sedangkan Kuncen Pernisanan (Pelestari Nisan Asli Nusantara) M Lutfi Ghozali M Kub menilai berdasarkan batu nisan yang ada di makam yang ditemukan warga NU dan Ansor Ranting Wonokasian ini merupakan tipe nisan keluarga Giri Kedaton.

"Kami meyakini yang teman-teman NU Wonokasian temukan itu tipe nisan Dzurriyah Giri Kedaton. Nisan tipe ini memiliki bentuk dan ragam tersendiri yang berbeda dibanding tipe nisan lain seperti Mataram atau Aceh dan lainnya," jelas Lutfi Ghozali.

Selain itu, alumni Universitas Paramadina Jakarta ini memaparkan makam itu diperkirakan ada sejak abad ke 16. Berdasarkan sejumlah penelitian dan pencerahan dari sejumlah ulama selama ini, masa lalu nisan juga merupakan identitas kebudayan dan keturunan dari keluarga tertentu.

"Nah, nisan yang ditemukan di Desa Wonokasian ini nisan dari Dzurriyah Giri Kedaton yang merujuk keturunan dari Raden Paku atau Ainul Yaqin atau yang biasa kita sebut dengan Sunan Giri," tegasnya.

Hal senada disampaikan Tutor Nasional Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) sekaligus Pengasuh Ponpes Darul Ulum Asy-ariyah di kawasan Jolotundo, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, KH Mansyur. Menurutnya, setelah dua kali mengunjungi makam itu, dari hasil istiqarah pihaknya membenarkan makam itu adalah makam keturunan dari Giri Kedaton.

"Sah sudah. Ini makam beliau dzurriyah dari Sunan Giri atau Sunan Ampel," jelas KH Mansyur ketika di makam itu.

Bahkan Pengasuh Pesantren Modern Bumi Shalawat Desa Lebo, Kecamatan Sidoarjo, KH Agoes Ali Masyhuri yang juga ke lokasi makam itu menyebutkan makam tersebut diyakini makam auliyah keturunan Giri Kedaton.

"Wes leres. Ramuten yo makam iki ojo sampek ilang. (Sudah benar. Rawat iya makam ini, jangan sampai hilang," ungkapnya Kiai Kharismatik yang akrab dipanggil Gus Ali ini dalam bahasa Jawa di makam itu.

Saat ini, makam auliyah ini berada di tengah-tengah Tempat Pemakaman Umum (TPU) Islam RT 04 RW 02 Desa Wonokasian yang merupakan aset milik desa setempat.

Ketua Tanfidziyah NU Ranting Wonokasian, Joko Selamet Raharjo mengakui penemuan itu bermula adanya keberadaan tumpukan bata kuno dan batu andesit di makam itu. Kemudian semakin banyaknya orang yang secara spiritual merasakan magnet (daya tarik) kemuliaan hingga diteruskan dengan penelitian dan kajian kepada para ahlinya.

"Memang sudah lama banyak ulama mengatakan yang mereka rasakan kalau di Desa Wonokasian ini seperti pernah ditinggali auliyah besar. Itu menurut penerawangan mereka," papar Joko.

Joko menguraikan penjelasan silsilah dan sejarah ini bertujuan untuk melestarikan paham tentang para wali dan ulama yang telah wafat. Apalagi makam tokoh yang berkiprah penting dalam dakwah di suatu wilayah.

"Setelah melewati berbagai ikhtiar tentang kebenarannya seperti konsultasi dan memberitahukan ke sejumlah kiai dan ulama hingga ahli sejarah Islami Nusantara dengan spiritualnya, alhamdulillah akhirnya terungkap semuanya. Bahkan semua meyakini kebenaran makam itu dari keturunan Sunan Giri," urainya.

Setelah mengalami kejadian mistis dan mendapat saran dari sejumlah tokoh ulama, sekolompok warga NU MWC Wonoayu mengikhtiarkan makam itu. Setelah beberapa bulan ditemukan hingga mendapat kepastian dari beberapa ulama kemarin itu.

"Makam batu nisan terbuat dari batu karang dan posisi makam tidak menghadap kiblat seperti makam umum lainnya, tetapi justru serong dari kiblat," tandas Urip Sumoharjo salah satu anggota tim yang mengatasnamakan Sarkub ini. Zak/Hel/Waw