Kepala Bakesbangpol : Merasa Benar Sendiri Menjadi Pemicu Sikap Intoleransi


Kepala Bakesbangpol : Merasa Benar Sendiri Menjadi Pemicu Sikap Intoleransi PAPARAN - Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik (Bakesbangpol) Pemkab Sidoarjo, Dr Mustain memberi paparan saat membuka acara pelatihan untuk kalangan guru-guru Sidoarjo di Hotel Royal Trawas, Mojokerto, Rabu (22/06/2022).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik (Bakesbangpol) Pemkab Sidoarjo, Dr Mustain membuka acara pelatihan untuk kalangan guru-guru di Sidoarjo. Acara yang diselenggarakan di Hotel Royal Trawas, Mojokerto, Rabu (22/06/2022) itu diselenggarakan Komunitas Seni Budaya BrangWetan hingga Kamis (23/06/2022).

Acara dengan tema Training Pembuatan Konten dan Media Pembelajaran Berbasis Toleransi Bagi Guru Mata Pelajaran dan Guru (Pembimbing) Esktrakurikuler. Sebanyak 25 peserta guru dari lima sekolah. Diantaranya SMAN 1 Gedangan, MAN Nurul Huda Sedati dan 3 SMPN diantaranya Waru, Taman dan SMPN Gedangan.

Acara ini menjadi bagian rangkaian program BrangWetan selama satu tahun yakni Cinta Budaya Cinta Tanah Air Tahap Dua yang berlangsung hingga pertengahan tahun depan.

"Ada tiga hal yang menjadi penyebab terjadinya intoleransi. Pertama, mereka merasa dirinya benar dan orang lain salah. Kedua, menjalankan agama hanya secara tekstual saja, bukan kontekstual. Ini bukan hanya di kelompok muslim saja, melainkan juga di penganut agama lain. Meski yang banyak terlihat dari kelompok muslim. Ketiga, kurang bisa memahami sunnah. Mereka mengidentikkan budaya Arab dengan ajaran Islam," ujar Kepala Bakesbangpol Pemkab Sidoarjo, Dr Mustain, Rabu (23/06/2022).

Selain itu, Mustain mengakui melihat kegelisahan kondisi masyarakat selama ini. Yakni karena jika ada orang berkumpul sudah cenderung melakukan unjuk rasa. Bahkan, ungkapan takbir sekarang ini digunakan untuk menyerang teman sendiri yang dianggap berlawanan.

"Ini sudah terjadi pergeseran nilai. Akibatnya, menjurus ke arah intoleransi. Padahal, apa yang terjadi di negara Arab sudah sedikit yang stabil. Mulai Afganistan, Irak, Syria dan Libanon semua hancur. Mereka tidak mampu menerjemahkan agama dalam wawasan kebangsaan. Akibatnya perang terus. Tidak sempat membangun. Bahkan diantara mereka terusir dari negaranya sendiri," imbuhnya.

Mustain mencontohkan Afganistan misalnya. Menurut Mustain, peran ulama atau pemuka agama sangat penting terutama menempatkan agama secara kontekstual. Dicontohkan, sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, KH Wahab Hasbullah menciptakan lagu Hubbul Waton Minal Iman. Kemudian menjadi semacam lagu wajib bagi kalangan Nahdlatul Ulama.

"Pesan ini menunjukkan ulama NU sudah menegaskan negara ini harus kita amankan," imbuhnya.

Mustain pernah meminta warga Huriah Kristen Batak Protestan (HKBP) menggubah lagu Hubbul Waton Minal Iman dengan aransemen yang menarik dan dinyanyikan di Pura. Ini menjadi contoh toleransi yang mengedepankan kebangsaan di atas perbedaan agama. Hal itu sesuai pesan KH Said Agil, yakni agama tetap dinomorsatukan tetapi budaya diutamakan.

"Hasilnya, semua berjalan dengan baik dan tidak akan saling menyalahkan atau saling menjatuhkan. Kesemua itu harus dipikirkan agar bangsa ini tidak hancur seperti negara-negara di Timur Tengah atau seperti Uni Sovyet. Ke depan Indonesia menjadi negara yang Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur (Negeri yang Baik dengan Rabb (Tuhan) Yang Maha Pengampun)," tegasnya.

Sementara Harmoni Senior Technical Advisor, Umelto (Alto) Labetubun menyebutkan tujuan kegiatan ini sekolah menjadi magnit bagi toleransi. Karena itu, perlu pembatasan penggunaan kata-kata yang menimbulkan konotasi negatif atau rejection. Misalnya radikalisme, intoleransi dan lain-lain. Pengalaman Harmoni bekerjasama dengan 93 sekolah di Sragen, menggunakan tema Membangun Rasa Percaya Diri.

"Kalau mereka sudah memiliki rasa percaya diri yang tinggi, maka tidak gampang diajak nakal kelompok manapun. Saya menilai ada teori yang menyebutkan mengapa seseorang itu menjadi pelaku teror. Yakni tiga N. Needs (kebutuhan), Narasi (teks) dan Networking (jaringan). Mereka yang menjadi teroris karena kebutuhannya (needs) tidak tercapai," paparnya.

Bagi mereka yang merasa teraleniasi di masyarakat, merasa dirinya tidak signifikan. Bahkan dianggap tidak ada di masyarakat. Hal ini tidak berhubungan dengan satu faktor, misalnya ekonomi. Karena terbukti para pelaku teror selama ini sebagian justru berasal dari kalangan mampu dan intelektual.

"Kebutuhan ini juga menyangkut respon dari masyarakat yang berkurang atau hilang terhadap apa yang disuarakan melalui media sosial (Medsos)," urainya.

Untuk mencukupi kebutuhan itu mereka membutuhkan teks (narasi) untuk menguatkan pembiasaan di masyarakat. Mereka yang melakukan teror selalu berada dalam jaringan (network). Baik jaringan nyata diantara teman-temannya maupun jaringan di dunia maya atau media sosial. Karena itu, dalam training ini diajarkan seperti pesan-pesan yang akan dibuat agar orang yang membacanya sudah merasa signifikan.

"Kebutuhan untuk mencari narasi yang membenarkan untuk melakukan tindakan-tindakan intoleran menjadi minimum. Seperti halnya anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian di rumahnya akan cenderung menjadi anak nakal di sekolah untuk menjadi signifikan di antara teman-temannya. Tidak ada gunanya 'perang ayat' tetapi yang penting 'perang pemasaran'. Diajarkan mampu diikuti siswa atau mereka justru lebih tertarik dengan yang diajarkan mereka," jelasnya.

Sementara Ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan, Henri Nurcahyo menegaskan persoalan toleransi bukan hal baru. Toleransi menjadi suatu hal yang sudah diketahui sejak lama dalam keseharian. Tetapi, kadang-kadang tidak disadari.

"Pelatihan soal toleransi bukan mengajarkan sesuatu yang sama sekali baru, melainkan memahami apa yang sudah diketahui untuk disadari dan yang paling penting adalah eksekusi," pungkasnya.

Dalam training ini yang menjadi narasumber Dr Herni Ferisia (UIN Sunan Ampel Surabaya), Prof Dr Sutiah (UIN MALIKI Malang) dan Dewantoro dari Harmoni Jakarta. Hel/Waw