Bumdes Singkalan Tanam Melon Golden, Raup Keuntungan Rp 6 Juta Sekali Panen


Bumdes Singkalan Tanam Melon Golden, Raup Keuntungan Rp 6 Juta Sekali Panen PETIK - Ketua Bumdes Cipta Mandiri Singkalan, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Galang Romadhon melayani konsumen memetik buah Melon Golden di TKD desa setempat, Jumat (16/10/2020) sore.

Sidoarjo (republikjatim.com) - Sebuah bangunan semi permanen berukuran 6 × 50 meter persegi disesaki tanaman buah Melon Golden (melon kuning). Bangunan Green House ini dibangun untuk merawat tanaman tahan di berbagai macam cuaca. Lokasinya berada di Tanah Kas Desa (TKD) Desa singkalan, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo.

Di tempat itu, Galang Romadhon merawat ratusan pohon Melon Golden. Tidak hanya menanam Melon Golden, Galang dan teman-temannya (Anggota Bumdes) juga menanam Semangka Bumdes Cipta Mandiri Singkalan ini, berdiri sejak Tahun 2019 dengan unit usaha pertanian modern menggunakan sistem Green House.

Saat memulai unit usaha pertanian modern ini, Galang harus bisa memahamkan dan meyakinkan Kepala Desa dan BPD Singkalan. Karena tidak sedikit yang meremehkan dan mencibir kemampuannya dalam membuat pertanian modern (Green House).

"Dari dulu saya berkeinginan membuat Green House. Akhirnya kami memberikan sejumlah kajian kepada kepala desa dan jajarannya. Unit usaha ini tidak mematikan usaha warga setempat dan bisa memberikan edukasi (pendidikan) ke masyarakat," ujar Ketua Bumdes Cipta Mandiri Singkalan, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Galang Romadhon kepada republikjatim.com, Jumat (16/10/2020) sore.

Galang menjelaskan kaidah dan kajian unit usaha pertanian modern sangat prospektif ke depan. Karenanya, semua kajian diberikan ke Kades dan jajarannya, termasuk BPD Singkalan. Apalagi, teknologi pertanian modern (Green House) tidak mengenal musim dan cuaca. Hal itu membuat tanaman bisa berkelanjutan dan berkisinambungan.

"Dengan teknologi ini hasil pertanian bisa meningkat 3 sampai 5 kali lipat dari pertanian konvesional. Bahkan dana operasional kurang dari 20 persen dan tingkat keberhasilannya panen sangat tinggi," imbuh bapak dua anak ini.

Untuk gagal panen, kata Galang semakin kecil. Bahkan tidak ada dikarenakan manfaat Green House cukup banyak. Diantaranya hama tidak bisa masuk untuk menyerang tanaman serta penggunaan obat-obatan kimia sangat minim. Seperti penggunaan pestisida berkurang dan masih banyak keunggulan lainnya.

"Selain itu, tanaman tumbuh dan produksi sepanjang tahun secara kesinambungan tanpa banyak dipengaruhi musim. Bahkan kualitas hasil tanam yang lebih terjamin, penggunaan pupuk dan pengairan yang lebih efisien. Bahkan, resiko serangan hama dan ancaman penyakit tanaman sangat rendah," tegasnya.

Galang mengakui membuat Green House biayanya tidak sedikit. Apalagi, awalnya belum beroperasi. Rinciannya, Tahun 2019 mendapatkan dana stimulus dari desa Rp 50 juta. Kemudian ditambah lagi Rp 30 juta Tahun 2020.

"Perkiraan hitungan rata-rata pembangunan menghabiskan dana di atas Rp 100 juta. Itu membuat kami hampir putus asa. Karena uangnya tidak cukup. Belum lagi operasionalnya. Akhirnya, diputuskan bergotong-royong bersama-sama pengurus mengerjakan sendiri dibantu warga setempat," jelasnya.

Karena itu, saat ada kunjungan warga Pagerwojo, Kecamatan Buduran, Sidoarjo melihat bangunan Green House ini tidak percaya menghabiskan anggaran Rp 80 juta. Akhir September 2020, keringat dan peluh Galang bersama pengurus Bumdes Cipta Mandiri terbayar melihat buah melon dan semangkanya mulai bisa dipanen.

"Di tengah kondisi yang kurang baik seperti sekarang kami masih bisa meraup keuntungan Rp 6 Juta sekali panen. Padahal, hanya menanam 600 pohon," tandasnya. Zak/Waw