744 Sapi di Sidoarjo Terjangkit Wabah PMK, 14 Dilaporkan Mati 18 Disembelih Paksa


744 Sapi di Sidoarjo Terjangkit Wabah PMK, 14 Dilaporkan Mati 18 Disembelih Paksa BERSIHKAN - Seorang peternak sapi Desa Maduretno, Kecamatan Taman, Sidoarjo membersihkan kandang sapi miliknya agar terhindar dari wabah Penyakit Kaki dan Mulut (PMK), Rabu (11/05/2022).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Sedikitnya 744 ekor sapi yang ada di Sidoarjo terjangkit wabah Penyakit Mulut dan Kaki (PMK). Data itu, berdasarkan data yang disampaikan Dinas Pangan dan Pertanian (Disperta) Pemkab Sidoarjo.

Berdasarkan total data itu, sebanyak 14 ekor sapi dilaporkan mati dan 18 ekor sapi lainnya disembelih (dipotong) paksa untuk menghindari wabah PMK semakin merebak.

Sub Koordinator Kesehatan Hewan Fungsional Medik Veteriner Muda Disperta Pemkab Sidoarjo, drh Rina Vitriasari mengatakan pihaknya telah memberi tindakan pengobatan secara Simptomatis. Termasuk melakukan komunikasi informasi dan edukasi tentang PMK itu.

"Kami memohon masyarakat tetap tenang tidak usah panic selling atas mewabahnya PMK," ujarnya kepada republikjatim.com, Rabu (11/05/2022).

Menurut Rina, PMK bukan termasuk penyakit zoonosis atau penyakit yang tidak menular ke manusia. Selain itu, sapi yang sudah dipotong paksa karena terkena wabah PMK ini dagingnya masih bisa dikonsumsi.

"Kalau ada indikasi PMK dan terpaksa harus dipotong paksa, maka akan diarahkan ke Rumah Potong Hewan (RPH). Karena peternak dilarang dan tidak diperbolehkan memotong sendiri," imbuhnya.

Karena itu, Rina meminta peternak sapi tidak panic selling, meski ada ratusan sapi yang terkena PMK. Apalagi, di Sidoarjo tingkat kematian akibat wabah PMK ini masih tergolong rendah.

"Meski tingkat infeksi (penularannya) tinggi, tapi tingkat kematian hewan yang terjangkit PMK masih tergolong rendah. Kami minta masyarakat tetap tenang tidak dan perlu panic selling atau menjual ternaknya kemana-mana. Itu tambah memperberat tingkat infeksi," tegasnya.

Sementara saat ini, kata Rina karena wabah PMK ini tingkat infeksinya cukup tinggi bisa mencapai 100 persen.

"Tetapi tingkat kematiannya masih tergolong rendah di Sidoarjo yakni 1,5 persen," tandasnya. Hel/Waw