Sidoarjo (republikjatim.com) - Melimpahnya hasil tangkapan laut yang seharusnya menjadi angin segar kerap kali justru memicu duka bagi para nelayan. Di Desa Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo misalnya, melimpahnya pasokan ikan bernilai ekonomi rendah seperti ikan belanak dan ikan rucah sering membuat harga pasaran merosot tajam hingga menyentuh angka Rp 2.000 hingga Rp10.000 per kilogram.
Kondisi bergantung pada pengepul lokal serta tingginya risiko ikan busuk tak terserap pasar ini, melemahkan posisi tawar nelayan. Menjawab tantangan tersebut, tim akademisi dari Universitas Adi Buana (UAB) Surabaya turun tangan melalui program pengabdian masyarakat untuk mendorong nelayan pesisir "naik kelas".
Melalui pendanaan Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi serta dukungan penuh Laboratorium Alam Edutechnopreneurship UAB, tim pakar menghadirkan inovasi Teknologi Tepat Guna Mesin Pelet Ikan dan Pakan Ayam "Adi Buana Feed" (ABF).
Program ini menyasar Kelompok Nelayan Bintang Samudera Biru dengan pendampingan dari Pengurus Wilayah Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama' (SNNU) Jawa Timur.
"Arah program ini, bukan sekadar memberikan peralatan kepada nelayan, tetapi membangun kemampuan masyarakat agar mampu mengolah potensi perikanan menjadi kegiatan ekonomi yang lebih bernilai dan berkelanjutan," ujar Ketua Tim Pelaksana program Dr Moch. Shofwan, M.Sc bersama anggota M Nushron Ali Mukhtar, ST., MT. dan Vivin Andriani, S.Si., M.Sc.
Melalui sentuhan teknologi tepat guna ini, lanjut Shofwan ikan-ikan bernilai murah tidak lagi langsung dijual murah dalam kondisi segar saja. Akan tetapi, juga diolah menjadi pakan ternak berkualitas.
"Inovasi ini ditargetkan mampu mencegah kerugian pascapanen hingga 40 - 70 persen sekaligus menghasilkan sedikitnya dua jenis produk olahan siap pasar," pintanya.
Baca juga: Wujudkan Pendidikan Setara dan Bebas Bullying, Mendikdasmen Dorong Sekolah Inklusi Berbasis STEAM-S
Bukan sekadar bagi-bagi mesin, kata Shofwan tim pengabdian UAB menerapkan pendekatan partisipatif menyeluruh. Masyarakat dilibatkan langsung sejak tahap identifikasi kebutuhan hingga strategi pengembangan usaha.
Selain itu, Nelayan dibekali paket pelatihan komprehensif. Diantaranya meliputi teknis dan pengolahan yakni pemilihan bahan baku, penanganan higienis, pengolahan hingga penyimpanan. Kemudian, juga dibekali branding dan pengemasan yakni pelabelan, kemasan menarik, dan pembukaan minimal dua saluran pemasaran baru.
"Nelayan juga dibekali manajemen dan kelembagaan yakni pelatihan pencatatan keuangan yang ditargetkan dikuasai oleh minimal 70 persen anggota aktif. Langkah ini diambil agar kelembagaan nelayan tidak sekadar menjadi wadah penangkapan ikan semata, melainkan bertransformasi menjadi ekosistem usaha bersama yang mandiri dan memiliki daya saing tinggi," tegasnya.
Sementara saat ini, program tengah memasuki tahapan uji coba instalasi teknologi, pendampingan produksi hingga evaluasi berkelanjutan. Lewat modernisasi pengolahan ini, nelayan Tambak Cemandi tidak lagi pasrah saat harga ikan jatuh.
"Akan tetapi justru para nelayan ini siap mengolah hasil laut menjadi kekuatan baru ekonomi pesisir hingga menjadikan para nelayan naik kelas," pungkasnya. Ary/Waw
Editor : Redaksi