Ruwah Desa Kedungcangkring, Bawah Tumpeng Keliling untuk Syukuri Nikmat


Ruwah Desa Kedungcangkring, Bawah Tumpeng Keliling untuk Syukuri Nikmat RUWAH DESA - Wabup Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin menghadiri acara ruwah desa di Dusun Podokaton, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Sabtu (14/09/2019).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Ada banyak cara yang dilakukan warga dalam mensyukuri nikmat atas rezeki yang diberikan Allah SWT. Seperti halnya yang dilakukan ribuan warga Dusun Podokaton, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo.

Setiap dua tahun sekali, warga Podokaton yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani padi dan petani tambak ini melakukan syukuran Ruwah Desa. Sejak pagi warga sudah sibuk membuat tumpeng untuk kemudian diarak keliling desa. Warga Ponokawan mengaku tradisi ini sudah turun-temurun dari sesepuh desa setempat.

"Hampir setiap rumah warga membuat satu tumpeng. Ada puluhan tumpeng yang diarak. Setelah diarak keliling desa, kemudian tumpeng dibagikan kembali kepada warga. Sebelum dibagi digelar istighosah terlebih dahulu dan kirim do'a kepada keluarga dan sesepuh yang sudah meninggal," terang Tokoh Masysrakat, Zainudin Fanani yang juga menjabat Kepala Desa Kedungcangkring, Sabtu (14/09/2019).

Lebih jauh, Zainuddin menceritakan dari puluhan tumpeng itu, ada tumpeng yang berukuran besar yang diarak para tokoh masyarakat termasuk Wakil Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin. Selain itu, ada sejumlah tumpeng berukuran jumbo yang berisi hasil panen bumi seperti padi, timun, ikan hasil tambak dan olahan kedelai (tempe). Setelah diarak keliling dan selesai dido'akan warga kemudian beramai-ramai menggrebek tumpeng yang berukuran lebih dari 1 meter itu.

"Tradisi ruwah desa ini dilakukan setiap dua tahun sekali sebagai bentuk rasa syukur warga kepada Allah SWT. Acara digelar mulai pagi dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit malam hari," ungkapnya.

Sementara Wakil Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin menilai tradisi ruwah desa ini sangat positif sekali. Alasannya, tradisi ini mengajak masyarakat untuk berbagi rezeki sekaligus bersyukur atas rezeki dan nikmat yang diperoleh dari bertani.

"Tradisi ruwah desa ini tidak ada negatifnya, semuanya positif. Ruwah desa menjadi ajang silaturahmi antar warga dan ada istighosah bersama kirim do'a ke sesepuh desa," paparnya.

Selain itu, lanjut Wabup yang akrab dipanggil Cak Nur ini berharap agar tradisi ruwah desa ini terus dilestarikan.

"Kami juga berharap di desa lainnya juga tetap mempertahankan tradisi ruwah desa ini," tandasnya. Waw