Puluhan Tahun Tak Tersentuh Bantuan, Perajin Sangkar Burung Berharap Uluran Tangan Pemkab Ponorogo


Puluhan Tahun Tak Tersentuh Bantuan, Perajin Sangkar Burung Berharap Uluran Tangan Pemkab Ponorogo SANGKAR BURUNG - Perajin sangkar burung Desa Kalisat, Kecamatan Bungkal, Ponorogo menyelesaikan pesanananya yang menumpuk meski tak pernah dapat bantuan modal dari Pemkab Ponorogo, Kamis (25/06/2020).

Reporter Kamaluddin

(republikjatim.com) - Puluhan perajin sangkar burung Desa Kalisat, Kecamatan Bungkal, Ponorogo, hingga kini tidak pernah tersentuh bantuan dari Pemkab Ponorogo. Padahal, usaha home industri itu, sudah digeluti sejak 24 tahun silam.

Bahkan kini, memproduksi sangkar burung sudah menjadi usaha turun temurun di kampung ini. Namun, tak ada satu pun dari perajin maupun pengepul sangkar burung mendapatkan bantuan modal dari pemerintah untuk pengembangan usahanya itu.

Salah seorang perajin sangkar burung, Basuki warga Dusun Kalisattengah, Desa Kalisat, Kecamatan Bungkal misalnya. Pria 38 tahun ini, mengaku sudah 24 tahun menekuni usaha memproduksi sangkar burung. Produsen sangkar burung perkutut ini, sudah menekuni usahanya itu sejak masih bersekolah dahulu.

"Sudah 24 tahun memproduksi sangkar. Sejak sekolah dulu saya banyak membuat sangkar burung perkutut. Karena lebih mudah dan efisien waktu," ujarnya kepada republikjatim.com, Kamis (25/06/2020).

Basuki mengaku jika memproduksi sangkar itu, hasilnya seperti borongan. Dalam waktu 15 hari bisa menyelesaikan 20 sampai 30 unit. Penjualannya hanya ke pengepul. Hasil produksi juga bergantung cuaca. Menurutnya, jika musim kemarau sebulan bisa menyelesaikan 100 unit sangkar.

"Tapi kalau musim hujan hanya bisa menyelesaikansekitar 50 sampai 60 unit sangkar," imbuhnya.

Karena itu, lanjut Basuki pihaknya berharap ada uluran tangan (bantuan) dari pemerintah. Yakni bantuan permodalan. Meski sudah mencari pinjaman lunak yang tidak membebani para perajin tidak mau. Apalagi, selama menekuni usahanya puluhan tahun tak pernah mendapat bantuan dari Pemkab Ponorogo.

"Belum (tidak) ada bantuan sama sekali. Usaha kami murni swadaya. Kalau permodalan sangkar burung dimodali (dipinjami) pengepul. Harapan saya ada bantuan permodal. Selain itu, dibantu menstabikkan harga pasaran agar bisa setara dengan pembelian bahannya," pintahnya.

Basuki menjelaskan untuk penjualan hasil karyanya itu, hanya dijual Rp 55.000 untuk polosan (setengah jadi). Sedangkan untuk yang sudah jadi 100 persen dijual Rp 65.000 dari perajin ke pengepul.

"Hasilnya sangat kecil (tipis). Tak sebanding dengan ongkos produksi dan pembelian bakunya," tegasnya.

Hal yang sama disampaikan pengepul sangkar burung, Isrok. Pengepul sangkar burung yang masih tetangga Basuki ini menekuni pekerjaan itu sejak Tahun 1992 lalu. Selama ini dirinya menerima hasil karya dari sekitar 50 perajin sangkar burung di desanya itu.

"Saya hanya menampung hasil karya 50 perajin. Selebihnya diambil pengepul lain. Pemasarannya bergantung permintaan pengepul (pedagang) luar kota. Paling banyak kirim sangkar ke Trenggalek, Tulungagung dan Blitar. Kendalanya bahan baku bambu sulit. Kadang telat kiriman. Kalau soal harga dari perajin variasi antara Rp 60.000 sampai Rp 70.000 atau bahkan ada harga Rp 300.000," paparnya.

Ditanya soal bantuan Isrok menceritakan jika pernah dibantu Pemkab Ponorogo berupa alat akan tetapi sudah lama alatnya saja sudah rusak.

"Dulu ada bantuan alat, tapi sudah rusak. Sekarang belum ada bantuan lagi. Termasuk bantuan permodalan, meski kami sebulan menjual sekitar 1.500 - 2.000 unit sangkar," jelasnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Perdagangam Koperasi dan UMKM (Perdakum) Pemkab Ponorogo, Adien Andanawarih dikonfirmasi terkait keluhan perajin sangkar burung ini tidak memberi jawaban. Akan tetapi ada pernyataan soal permodalan saat dikonfirmasi.

"Kalau butuh bantuan modal silahkan mengajukan proposal ke bidang Koperasi UMKM. Disana tempat permodalan baik bantuan atau hutang dengan cicilan ringan," tandasnya. Mal/Waw