Konflik dengan Kekasih, Sopir Truk Asal Kedungkembar Prambon Tewas Gantung Diri


Konflik dengan Kekasih, Sopir Truk Asal Kedungkembar Prambon Tewas Gantung Diri BUKTI - Petugas Polsek Prambon dan Polresta Sidoarjo mengamankan tali tampar warna biru yang digunakan korban Muhammad Rudi Hariyanto (24) warga Glonggong, Desa Kedungkembar, Kecamatan Prambon, Sidoarjo gantung diri, Minggu (18/10/2020) malam.

Sidoarjo (republikjatim.com) - Warga Dusun Glonggong, Desa Kedungkembar, Kecamatan Prambon, Sidoarjo, gempar, Minggu (18/10/2020) malam. Ini menyusul adanya seorang sopir, Muhammad Rudi Hariyanto yang tewas mengenaskan dengan cara gantung diri. Diduga, pemuda berusia 24 tahun ini, nekad gantung diri karena ada konflik dengan kekasihnya.

"Saat ditemukan adiknya korban sudah dalam kondisi tak bernyawa dengan posisi menggantung menggunakan tali tampar warna biru," ujar Kapolsek Prambon, AKP Herry Moriyanto Tampake, Minggu (18/10/2020) malam.

Herry menjelaskan dalam kasus gantung diri ini, dilaporkan Habib Fahroni (45) Kasun Glonggong ke Polsek Prambon. Sedangkan saksi dari keluarga korban diantaranya Seger (51) orangtua korban dan DZA (18) adik korban.

"Dugaan sementara korban gantung diri karena ada konflik dengan kekasihnya," imbuhnya.

Herry menceritakan awalnya sekitar 21.00 WIB, korban pulang ke rumah. Selama ini, korban jarang sekali pulang karena pekerjaan sebagai sopir truk. Kemudian sekitar pukul 21.30 WIB, adik korban (DZA) ke ruang belakang dan mendapati korban sudah tergantung dengan seutas tali plastik warna biru dengan lidah menjulur di depan kamar mandi.

"Kemudian saksi DZA memanggil saksi orangtuanya (Seger). Kemudian dicek kebelakang dan dilaporkan ke perangkat desa kemudian dilanjutkan melapor ke Polsek Prambon itu," tegasnya.

Sementara petugas yang datang ke lokasi langsung mengevakuasi korban, memeriksa para saksi, mengumpulkan barang bukti, mengidentifikasi bersama petugas Satuan Reskrim Polresta sidoarjo dan menyelidiki kematian korban. Hasil pemeriksaan sementara, kata Herry saat ditemukan korban dalam kondisi tergantung dan terlilit seutas tali palstik dengan lidah menjulur.

"Saat itu, korban mengalami luka pada leher akibat jeratan tali. Selain itu, kemaluan korban juga mengeluarkan cairan," jelasnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan para saksi, lanjut Herry terutama dari keterangan orang tua korban, diketahui korban Seminggu sebelumnya, pernah meminta maaf kepada seluruh keluarga tanpa alasan yang jelas. Hanya saja, kala itu korba mengaku salah besar dan meminta maaf. Sedangkan perilaku korban, Seminggu sebelumnya juga tidak wajar.

"Dugaan sementara korban nekad gantung diri karena konflik dengan pacarnya sehingga ada putus asa. Tetapi, keluarga besar korban dan perangkat desa mengajukan keberatan korban diotopsi. Karena keluarga besar mengiklaskan atas kematian korban itu," tandasnya. Zak/Hel/Waw