Jaga Stabilitas Harga, BHS - Taufiq Siap Fasilitasi Pendirian Pabrik Tepung di Sidoarjo


Jaga Stabilitas Harga, BHS - Taufiq Siap Fasilitasi Pendirian Pabrik Tepung di Sidoarjo DIALOG - Cabup Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengunjungi pabrik krupuk milik H Affandi di Desa Jogosatru, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Senin (28/09/2020).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono (BHS) - M Taufiqulbar siap memfasilitasi berdirinya pabrik tepung di Sidoarjo. Upaya ini, untuk menjaga stabilisasi harga tepung di Sidoarjo hingga mencapai Rp 5.000 per kilogram.

Selain itu, pabrik tepung ini agar mampu mensuplai kebutuhan bahan baku (tepung) bagi ratusan pabrik krupuk yang tersebar di sejumlah kecamatan di Sidoarjo. Apalagi, Sidoarjo dikenal sebagai kota pabrik krupuk.

"Saya akan mendorong pabrik tepung ada di Sidoarjo agar harga tepung stabil Rp 5.000 per kilogram. Karena kalau sekarang Rp 6.500 sampai Rp 8.000 per kilogram memberatkan pengusaha krupuk," ujar BHS saat berkunjung di pabrik krupuk Onta di Desa Jogosatru, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Senin (28/09/2020).

Menurut mantan anggota DPR RI 2014 - 2019 ini, pihaknya akan mengupayakan agar lahan pertanian 12.500 hektar di Sidoarjo, 1 persennya ditanami ketela pohon sebagai bahan baku tepung. Baginya jika ada stabilisasi harga tepung maka pabrik krupuk tidak akan rugi dan petani ketela pohon juga merugi alias seimbang.

"Nanti para pemilik pabrik krupuk di Sidoarjo bisa mendapatkan harga tepung maksimal Rp 5.000 per kilogram, petani mendapat laba dan pabrik tepung sudah mendapat untung 40 persen dari nilai produk. Sekarang bisnis apa yang keuntungannya 40 persen. Sehingga usaha pabrik krupuk makin menggeliat," imbuhnya.

Begitu juga soal bahan bakar kayu. Kata Alumnus Teknik Perkapalan ITS Surabaya ini selama ini pabrik krupuk disuplai kayu sebagai bahan bakar dari Pasuruan. Padahal, Pasuruan hanya memiliki 350 pabrik berskala besar. Sedangkan Sidoarjo justru memiliki sekitar 950 pabrik besar. Seharunya bahan baku kayu bakar bisa diambil dari perusahaan-perusahaan di Sidoarjo dengan harga Rp 3 juta. Apalagi selama ini mengandalkan suplai pasuruan mendapat harga Rp 4 juta per truk.

"Kalau perusahaan-perusahaan di Sidoarjo itu diberdayakan pengambilan bahan kayu diarahkan ke sini (pabrik krupuk) maka meringankan pengusaha kerupuk. Termasuk soal kerjasama dengan Perusahaan Gas Negara (PGN) bisa menyalurkan gas ke pabrik krupuk. Maka perusahaan krupuk bisa menghemat 30 persen daripada menggunakan kayu bakar. Apalagi di Sidoarjo ada Minarak (Minarak Brantas Gas) yang sudah berproduksi. Akan dikerjasamakan jaringan gas (Jargas)-nya," tegasnya.

Sedangkan soal pemasaran krupuk, BHS menyiapkan videotron di sepanjang jalur tol Sidoarjo yang mencapai 30 kilometer. Aapalagi, tol Sidoarjo dilalui semua kendaraan dari berbagai arah dan penjuru dipastikan melintasi Tol Sidoarjo. Produk-produk UMKM akan dipajang di videotron itu agar mampir ke rest area dan stan UMKM yang disiapkan.

"Termasuk akan disiapkan stan UMKM di Terminal Bungurasih yang dikunjungi sekitar 30 juta orang per tahun serta menyiapkan stan UMKM di Bandara Juanda yang melayani sekitar 12 juta penumpang per tahun. Kalau bisa stan di Terminal Bungurasih dan Bandara Juanda itu gratis bagi UMKM Sidoarjo," ungkapnya.

Sementara salah seorang pengusaha krupuk di Sukodono mengakui harga tepung Rp 7.000 per kilogram itu sangat memberatkan pemilik pabrik kerupuk. Apalagi kerupuk juga bahannya mengandalkan ikan dan terasi sebagai campuran bahan utama tepung.

"Kalau bisa maksimal harga tepung itu Rp 5.000 per kilogram. Karena ada ada krupuk turun harga sudah dikomplain. Apalagi kami juga jual krupuk Rp 67.000 per 5 kilogram," tandasnya. Hel/Waw