Disambati Ekspor, BHS Siap Dorong Telur Asin Kampung Bebek Kebonsari Tembus Pasar Asia


Disambati Ekspor, BHS Siap Dorong Telur Asin Kampung Bebek Kebonsari Tembus Pasar Asia KAMPUNG TELUR ASIN - Bacabup Bambang Haryo Soekartono berdialog dengan Ketua Kelompok Peternak Bebek-Telur Asin, Sumber Pangan Kebonsari, Candi, Nur Hidayat untuk menggali potensi dan kendala para produsen telur asin di Kampung Bebek, Senin (20/07/2020).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Blusukan yang digelar Bakal Calon Bupati (Bacabup) Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono (BHS) untuk memperhatikan ribuan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Sidoarjo terus berjalan. Kali ini, BHS mendatangi Kampung Bebek Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Senin (20/07/2020).

Dalam kunjungan ini, BHS ingin menggali potensi sekaligus mengetahui sejumlah kendala yang dihadapi puluhan peternak bebek dan produsen (perajin) telur asin. Terutama soal kendala pemasaran, baik untuk pasar domestik (dalam negeri) maupun pasar luar negeri.

Tidak hanya soal pemasaran, para produsen telur asin ini juga mengeluhkan soal sempitnya jalan masuk menuju etalase-etalase dan lokasi produksi telur asin itu. Bahkan, untuk rombongan bus yang hendak berbelanja telur asin justru kesulitan dan harus dioper menggunakan kendaraan lain yang lebih kecil.

"Hingga kini, kami dan anggota belum mampu menembus pasar ekspor (luar negeri). Kendalanya, kami belum bisa memenuhi standar kemasan (packaging)," ujar salah seorang produsen telur asin, Nur Hidayat kepada republikjatim.com, Senin (20/07/2020) usai berdialog dan keliling bersama Bacabup Bambang Haryo Soekartono.

Lebih jauh, Nur yang juga menjabat Ketua Kelompok Peternak Bebek dan Telur Asin, Sumber Pangan Kebonsari ini menjelaskan selama ini seluruh produsen telur asin, sejak Tahun 2012 lalu, sudah berkeinginan menembus pasar ekspor, terutama pasar Asia. Alasannya, telur asin asal Kampung Bebek ini tergolong sebagai produk makanan kelas premium. Selain mengandung banyak asupan gizi rasanya juga sangat enak.

"Keinginan semua anggota (produsen telur asin) itu belum terwujud. Karena terkendala standar kemasan yang ditetapkan untuk pasar ekspor itu. Saat itu ada pembeli dari Jepang. Tapi, produsen telur asin belum memahami tata cara ekspor. Makanya saya sekarang belajar kemasan dan uji laboratorium soal kemasan itu agar bisa menembus pasar Jepang dan Korea," imbuhnya.

Melalui pertemuan dan dialog bersama BHS itu, pihaknya berharap pemerintah daerah Sidoarjo yang baru mendatang bisa memberi pendampingan kemasan telur asin yang memenuhi standar ekspor itu. Selain itu, pihaknya membutuhkan bimbingan dari pemerintah daerah secara kontinyu (terus-menerus) untuk menembus pasar ekspor itu.

"Makanya sekarang peternak bebek dan produsen telur asin di Desa Kebonsari menurun menjadi 22 orang. Padahal, sebelumnya Tahun 2010 lalu ada 47 orang. Penyebabnya, selain lahan untuk ternak bebek mulai berkurang juga karena persaingan harga dan belum ada permintaan telur asin secara permanen," ungkapnya.

Sementara menanggapi berbagai keluhan itu, BHS menguraikan pihaknya bakal memberikan perhatian lebih bagi para peternak bebek dan produsen telur asin di Desa Kebonsari, Kecamatan Candi jika diamanahi sebagai Bupati Sidoarjo. Pihaknya juga bakal dorong usaha telur asin ini bisa menembus pasar ekspor ke luar negeri sesuai yang diharapkan saat ini.

"Memang saat ini, telur asin asal Vietnam dan Thailand masih mendominasi pasar Jepang, Korea dan China. Sidoarjo tidak boleh ketinggalan. Karena dari sisi rasa dan aroma, telur asin di Kampung Bebek ini, jauh lebih enak. Saya punya keyakinan (telur asin) Sidoarjo lebih unggul, termasuk dari produksi telur asin di Brebes dan Lombok," tegasnya.

Selain itu, kata mantan anggota DPR RI periode 2014-2019 ini mengenai pengemasan, BHS menilai hal itu sebagai salah satu kelemahan industri dalam negeri. Sehingga masalah kemasan, masih harus banyak belajar ke beberapa negara lain, terutama Jepang yang kemasannya lebih bagus.

"Kalau saya diamanahi sebagai bupati, ini akan jadi salah satu prioritas karena prospek untuk ekspor. Kita akan belajar packaging secara baik bila perlu ke negara lain. Karena telur asin dan kampung bebek ini bisa meraih penghargaan Ketahanan Pangan Nomor 1 secara Nasional. Karena itu, pemerintah harus terus mengawal agar produksi kontinyu dan berkembang pesat. Kami pun akan memfasilitasi pemasarannya di sentra UMKM Sidoarjo agar para konsumen tak kesulitan masuk kampung bebek karena jalannya sempit," jelasnya.

Alumnus Perkapalan ITS Surabaya ini menilai, keberadaan Kampung Bebek dan Telur Asin ini banyak berperan dalam menumbuhkan ekonomi kerakyatan di Sidoarjo. Karena itu, dirinya bakal mengawal ekonomi kerakyatan itu agar mampu berkembang pesat dan mampu menjadi destinasi wisata di Sidoarjo. Yakni mampu menjadi wisata edukasi tentang proses beternak bebek, mulai dari perawatan, bertelur hingga penetasan. Bahkan wisata di Kampung Bebek dan Telur Asin ini juga menyuguhkan cara memproduksi telur asin.

"Kampung ini harus bisa dikembangkan sebagai pariwisata dan edukasi. Mengenai kesehatan ternak juga mendapatkan perhatian saya saat diamanahi sebagai Bupati Sidoarjo. Saya bakal meminta Dinas Peternakan untuk berkunjung rutin ke Kampung Bebek dan Telur Asin ini, untuk memantau kesehatan ternak bebek agar tetap sehat dan tidak terserang hama penyakit," tandasnya. Hel/Waw