BHS-Taufiqulbar Siap Kembangkan Kampung Sepatu-Sandal Kemasan Krian


BHS-Taufiqulbar Siap Kembangkan Kampung Sepatu-Sandal Kemasan Krian DIALOG - Cabup Sidarjo, Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengunjungi sentra UMKM Sepatu dan Sandal Mojosantren, Kelurahan Kemasan, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Senin (14/09/2020).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Kepedulian Pasangan Calon (Paslon) Bupati-Wakil Bupati Bambang Haryo Soekartono (BHS)-M Taufiqulbar terhadap dunia Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sangat serius. Hal itu dibuktikan dengan kesiapan Paslon ini, mengembangkan sejumlah potensi UMKM di Sidoarjo.

Salah satunya UMKM di Kampung Sepatu-Sandal di Mojosantren, Kelurahan Kemasan, Kecamatan Krian, Sidoarjo. Karena itu, BHS mengunjungi salah satu perajin Sepatu-Sandal milik Abdul Ghofur di Mojosantren, Kelurahan Kemasan, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Senin (14/09/2020).

"Saya menilai usaha pembuatan sandal dan sepatu di kampung ini sangat potensial untum dikembangkan. Karena produk-produk (sepatu-sandal) tidak hanya dipakai warga Sidoarjo, Surabaya dan Jatim. Tetapi, sudah merambah hingga Kalimantan, Lombok (NTT) dan Bali," ujar BHS kepada republikjatim.com, Senin (14/09/2020).

Lebih jauh, BHS yang juga mantan anggota DPR RI periode 2014 - 2019 ini mengaku sangat menyayangkan, produk dari kampung Sepatu-Sandal Kemasan ini belum memiliki merek khusus. Menurutnya, seharusnya merek itu harus difasilitasi pemerintah daerah karena produknya sudah diakui oleh seluruh konsumen di penjuru Indonesia.

"Minimal ada merek yang bisa diberi merek Sidoarjo Jatim atau Sidoarjo Indonesia. Karena kami melihat potensi UMKM sepatu-sandal Kemasan ini cukup baik. Kami bakal memfasilitasi pemberian merek pada produk sepatu-sandal asal Kemasan ini, kalau saya diamanahi sebagai Bupati Sidoarjo. Nomor satu yang akan kami berikan yakni fasilitasi merek ini," imbuh Cabup yang berpasangan dengan Cawabup M Taufiqulbar ini.

Selain itu, lanjut BHS, pihaknya tidak mempermasalahkan jika ada sebagian produk sepatu-sandal yang tidak dilengkapi merek. Namun pihaknya bakal mengawal produk-produk yang sudah diberi merek hingga bisa mendorong pemasarannya lebih cepat dan berkembang.

"Kami akan siapkan upayakan bantuan pemasaran online dan offlinenya. Misalnya dengan mewajibkan rest area jalan tol untuk menjual produk-produk UMKM Sidoarjo. Karena rest area jalan Tol Surabaya-Sidoarjo itu berada di wilayah Sidoarjo," tegas Alumnus ITS Surabaya ini.

Tidak hanya itu, kata BHS pihaknya juga bakal berancang-ancang agar produk UMKM Sidoarjo bisa dijual dan dipasarkan di Terminal Bungurasih. Alasannya, di terminal itu posisinya berada di wilayah Sidoarjo, yakni di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru. Baginya, Terminal Bungurasih karena milik Sidoarjo, sekitar 70-80 persen menjual produk-produk UMKM Sidoarjo. Tidak hanya menjual makanan, tapi produk-produk UMKM lainnya asal Sidoarjo.

"Saya juga bakal mendesak PT Angkasa Pura I yang mengelola Bandara Juanda, untuk menyediakan gerai khusus bagi produk UMKM Sidoarjo. Kami juga akan mendorong 14.000 ASN Sidoarjo, bisa menggunakan produk Sidoarjo, diantaranya batik, sepatu, sandal dan lainnya. Kami beri contoh dulu melalui ASN baru masyarakat Sidoarjo. Karena produk ini malah belum dimanfaatkan orang Sidoarjo," jelasnya.

Sementara itu, BHS menegaskan bakal mendampingi UMKM dari sisi permodalan, sertifikasi, manajemen dan pemasaran. Pihaknya juga bakal memfasilitasi pemasaran produk UMKM Sidoarjo, bakal membangun gedung gerai UKMK di kampung seni Perum Pondok Mutiara, yang difasilitasi video tron yang menghadap ke jalan tol.

"Untuk Gedung UMKM ini juga dilengkapi sarana untuk pertunjukan seni," paparnya.

Sementara salah seorang pelaku UMKM sepatu-sandal, Abdul Ghofur mengaku merintis usahanya sejak tahun 1979 silam. Menurutnya permintaan usahanya menurun dibanding beberapa tahun lalu.

"Sekarang karyawan ada 60 orang. Kalau dulu, ratusan orang. Karena kami mengutamakan sistem padat karya," tandasnya. Hel/Waw