Arak Tiga Pusaka Dini Hari, Usir Pagebluk Corona Dari Bumi Reog


Arak Tiga Pusaka Dini Hari, Usir Pagebluk Corona Dari Bumi Reog KIRAB PUSAKA - Sebanyak tiga pusaka Ponorogo diarak keliling alun-alun karena diyakini bisa mengusir pagebluk (wabah) virus Corona (Covid-19) tengah malam tepat malam Selasa Kliwon, Selasa (14/04/2020) dini hari.

Ponorogo (republikjatim.com) - Sedikitnya 3 pusaka milik Pemkab Ponorogo diarak keliling Kota Reog. Upaya ini sebagai ritual tolak balak. Ini menyusul, di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) menyebabkan 6 warga ponorogo dinyatakan positif dan membuat Ponorogo masuk zona merah. Rituan ini diprakarsasi para sesepuh Pakasa (Paguyuban Kawulo Keraton Surakarta) di Ponorogo.

Ritual ini digelar Senin (13/04/2020) tengah malam hingga Selasa (14/04/2020) dini hari. Ritual dengan mengusung tiga pusaka tua Ponorogo ini diarak berjalan keliling memutari alun-alun Ponorogo.

Rutenya berangkat dari Pendopo Pringgitan berjalan ke selatan menuju depan paseban. Kemudian berjalan mengelilingi alun -alun hingga kembali lagi ke Pendopo Pemkab Ponorogo.

"Ketiga pusaka ini diarak mulai pukul 00.00 WIB bertepatan malam Seloso Kliwon (anggoro kasih). Ketiga pusaka itu Tumbak Tunggul Buwono, Payung Tunggul Wulung dan Cinde Puspito. Ketiganya itu biasa dikirab saat bulan Suro," terang Pengurus Paguyupan Kawulo Keraton Surakarta, Agus Miswanto kepada republikjatim.com, Selasa (14/04/2020) dini hari.

Agus menceritakan tujuan ritual mengeluarkan dan diaraknya ketiga Pusaka Ponorogo ini untuk mengusir pagebluk (wabah) virus Corona. Karena ritual Ngarak Pusoko ini pernah dilakukan saat ada pagebluk di Ponorogo.

"Tujuan dan niat kami pagebluk Corona ini sirna dan hilang dari Bumi Ponorogo. Sirna dari Indonesia. Bahkan sirna dari dunia ini. Malam ini ritual mengusir pagebluk Corona. Ritual seperti ini pernah dilakukan dahulu saat Ponorogo terjadi pagebluk. Ritual ini hanya sarana. Semoga Allah mengabulkannya," pintahnya.

Sementara saat ritual ketiga pusaka ini di arak keliling alun -alun. Menurut warga yang menyaksikan kirab pusaka ini terasa auranya terasa sangat mistis.

"Suasana saat pusaka dikirab sangat mistis. Karena diikuti obor dengan aroma asap kemenyan dengan irama mengiringi langkah -langkah puluhan orang turut kirab. Terasa khidmat dan membuat saya terasa merinding," tandas Putra (15) yang mengaku tak sengaja melihat kirab itu. Mal/Waw