Apresiasi Sentra UMKM Sayangan Kesambi, BHS Siapkan Perizinan dan Hak Paten Mudah dan Murah


Apresiasi Sentra UMKM Sayangan Kesambi, BHS Siapkan Perizinan dan Hak Paten Mudah dan Murah PERALATAN DAPUR - Bacabup Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengunjungi UMKM produsen sayangan (peralatan dapur dan rumah tangga berbahan alumunium dan stainless) di RT 05, RW 01, Desa Kesambi, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Rabu (12/08/2020).

Sidoarjo (republikjatim.com) - Bakal Calon Bupati (Bacabup) Sidoarjo, Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengapresiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Sayangan yang ada di Desa Kesambi, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Selain hasil produksinya sangat bagus dan layak masuk Standar Nasional Indonesia (SNI), ratusan perajin peralatan dapur dan rumah tangga berbahan alumunium dan stainless ini juga mampu menguasai pasar se Jawa Timur.

Namun, sayangnya usaha milik warga secara turun temurun itu belum mampu membuat hak paten merek. Selain itu, mereka juga belum memahami seluruh proses perizinan dan pemasaran secara online untuk pengembangan usaha di kampung sentra produsen Sayangan itu.

"Saya berkeinginan usaha milik para produsen UMKM Sayangan ini berkembang pesat. Kalau saya menjadi Bupati Sidoarjo, saya akan daftarkan (hak) patennya. Saya sangat mengapresiasi usaha kerajinan ini karena produknya mulai dari dandang, panci dan oven kue kering dan lainnya sudah layak mendapatkan label SNI. Kualitasnya sangat bagus," ujar BHS kepada republikjatim.com, Rabu (12/08/2020) usai berdialog dengan para pemilik UMKM Sayangan di Desa Kesambi, Kecamatan Porong.

Karena itu, kata Bacabup yang mendapatkan rekomendasi resmi Partai Gerindra ini, dirinya tidak heran para produsen sayangan ini mampu menguasai pasar di Jatim. Mulai pasar lokal di Sidoarjo, juga pasar Pasuruan, Jombang, Jember, Bondowoso, Probolinggo dan Situbondo. Kendati demikian, BHS berharap produk Sayangan ini juga dibeli masyarakat Kota Delta.

"Masyarakat Sidoarjo juga harus beli produk Sidoarjo. Karena UMKM mampu menyumbang pendapatan nasional maupun daerah lebih dari 60 persen. Sekaligus menyokong penyediaan lapangan kerja sekitar 97 persen nasional dan 95 -96 persen lokal Sidoarjo. Jadi UMKM Sidoarjo harus bangkit dan diperhatikan," imbuhnya.

Dalam pengembangan UMKM Sayangan, lanjut Alumnus ITS Surabaya ini ada beberapa program dan upaya yang bakal dijalankannya. Diantaranya selain mendaftarkan hak paten, pihaknya akan memfasilitasi UMKM Sayangan dapat bantuan modal program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pihaknya bakal menyiapkan tenaga pembimbing agar UMKM mendapat kredit permodalan dari KUR. Selain itu, soal perizinan, BHS bakal menyiapkan Klinik UMKM yang dikelola OPD terkait mulai Disperindag, Dinas Koperasi dan UKM serta Dinas Penanaman Modal Perizinan dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemkab Sidoarjo.

"Klinik UMKM itu, bakal memberikan pendampingan ke UMKM, termasuk UMKM Sayangan, terkait proses pengajuan SNI, PIRT, perizinan dan lain sebagainya," tegasnya.

Sedangkan soal adanya keluhan bahan baku yakni alumunium dan stainless steel yang mahal dan harus impor dari China, BHS menyatakan bakal berupaya agar ada industri bahan baku kerajinan Sayangan di Sidoarjo. Pihaknya bakal mengusahakan agar bahan baku bisa diperoleh dengan cepat dan harganya yang murah dan tidak memberatkan para pelaku UMKM yang jumlahnya cukup banyak itu.

"Saya bakal konsen mengawal keberadaan UMKM saat dimanahi sebagai Bupati Sidoarjo. Tidak ada kata UMKM dipersulit, khususnya soal perizinan. Kalau perlu, saya jadi pelindung UMKM di seluruh Sidoarjo agar perizinan dan hak paten mudah dan murah. Kalau perlu gratis sebagai bagian dari bimbingan dinas," jelasnya.

Sementara dalam kunjungan ke UMKM Sayangan di Desa Kesambi ini, BHS juga menggelar dialog dengan sejumlah pelaku UMKM di Sidoarjo. Dialog yang digelar secara sederhana ini di teras rumah warga itu, diikuti para pelaku UMKM jaket kulit, UMKM Kerupuk, UMKM Kupang, UMKM budidaya Bonsai dan lain sebagainya. Dialog ini digelar dalam rangka HUT UMKM Indonesia yang jatuh pada 12 Agustus 2020 ini.

Salah satu pelaku UMKM Sayangan di Desa Kesambi, Djunaidi mengaku sudah menjalankan usahanya sejak 1998 silam dengan mempekerjakan 10 orang warga sekitar. Menurutnya dirinya fokus membikin dandang dan panci. Sedangkan pasarnya di Jatim wilayah timur hingga Jember dengan omzet sekitar Rp 50 juta per bulan. Sedangkan rekan-rekannya ada yang menguasai pasar Malang, Kediri, Madiun, Tuban, Lamongan dan Surabaya.

"Kami berharap usaha ini bisa berkembang. Apalagi nanti kalau ada bimbingan dari pemerintah mengenai produksi berbagai akselerasi produk lain hingga pemasarannya seperti program Pak BHS. Karena disini sudah menjadi sentra UMKM Sayangan sejak puluhan tahun silam," tandasnya. Hel/Waw